Pada awalnya, IT hanya dipandang sebagai alat pengolah data yang menjadi tanggung jawab departemen pengolah data elektronik (PDE). Kemudian peran IT mengingkat sebagai penyedia informasi bagi manajemen. Untuk peran ini, departemen Pengolah Data Elektronik kemudian diubah menjadi departemen sistem informasi atau departemen teknologi informasi. Teknologi informasi diatur oleh departemen IT. Dengan semakin berkembangnya peran IT dari peran efisiensi atau peran teknis atau peran operasional ke peran strategik, pengelolaan IT tidak dapat hanya diserahkan ke departemen IT saja. Artinya, jika peran IT sudah strategik, IT menjadi agenda yang penting bagi eksekutif puncak, sehingga keputusan mengenai IT berada di tangan dewan direksi. Pengelolaan IT oleh departemen IT masih dimungkinkan sepanjang peran IT masih sebagai penyedia informasi dan belum strategik. Akan tetapi jika peran IT sudah strategik, pengelolaan IT tidak hanya menjadi tanggung jawab departemen IT saja, tetapi sudah menjadi tanggung jawab korporat.
Bayak proyek IT strategik yang penting dan digunakan untuk mendukung sasaran perusahaan justru gagal dalam pelaksanaan. Kegagalan ini disebabkan proyek IT hanya ditangani oleh teknisi IT saja tanpa adanya keterlibatan eksekutif. Kegagalan ini juga banyak disebabkan visi departemen IT tidak selaras dengan visi korporasi, padahal tujuan IT adalah mendukung pencapaian goal organisasi. Selain itu, proyek IT yang strategik merupakan proyek yang mahal sehingga seharusnya diyakinkan bahwa proyek tersebut harus berhasil. Pengelolaan IT oleh korporasi mempertegas keyakinan bahwa proyek IT harus berhasil, dengan resiko kegagalan IT terkendali dan serendah mungkin.
Alasan dibutuhkannya tatakelola IT adalah selama ini praktek pengambilan keputusan IT di dewan direksi sering bersifat ad hoc atau tidak terencana dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan fakta antara lain:
- Keputusan dibuat dalam posisi perdebatan informal.
- Proyek disetujui tanpa konteks strategik
- Fokus lebih pada kapasistas CIO dibandingkan tatakelola IT berada pada jalurnya
- Komunikasi dan presentasi dilakukan dengan bahasa yang terlalu technology minded.
- CIO memiliki akuntabilitas diluar kendalinya
- Dewan direksi terlalu fokus pada hal-hal kecil dibandingkan pada masalah yang lebih besar (big picture or strategic issue) dari IT.
Supaya keputusan IT di level korporat dapat berjalan benar, maka perlu dibuatkan suatu sistem tatakelola IT yang baik.
Selain itu, tatakelola IT dibutuhkan karenan IT merupakan pendorong utama proses transformasi bisnis. IT memberi imbas penting bagi organisasi dalam pencapaian misi, visi dan tujuan strategik. Sebagai aset khusus yang bernilai mahal dan mengandung resiko tinggi, IT membutuhkan tatakelola yang baik agar proses keselarasan dengan seluruh strategi bisnis dapat mencapai tujuan organisasi. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka dibutuhkan petunjuk umm (best practice) tatakelola IT yang meliputi kerangka kerja pada level puncak, jaminan depedensi antarunit dengan manajemen puncak, manajemen sumberdaya, manajemen resiko, keselaran strategi dan pelaporan pengukuran kinerja.
Implementasi tatakelola IT membutuhkan proses evaluasi karena kesuksesan pelaksanaan IT harus dapat terukur melalui metrik tatakelola IT. Dengan melakukan metrik tatakelola IT, organisasi dapat meningkatkan kualitas layanan IT, mengurangi resiko, meningkatkan kinerja penghantaran nilai dan mengurangi biaya layanan IT.
Pada kenyataannya pelaksanaan tatakelola IT tidak selalu berjalan lancar. Berbagai hambatan dan masalah dapat muncul karena berbagai hal, seperti manajemen senior tidak mau terlibat dan menggunakan IT, keselarasan strategik tidak berjalan baik, adanya hambatan kepemilikan proyek, manajemen resiko yang lemah dan manajemen sumberdaya tidak efektif. Untuk itu diperlukan serangkaian model manajemen dan tatakelola IT yang baik agar berbagai masalah dapat diantisipasi dan tujuan organisasi dapat dicapai. Kerangka pendefinisian tatakelola IT sebaiknya disusun terlebih dahulu untuk membangun konsistensi dan kesatuan pemahaman tentang konsep tatakelola IT.
Pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pentingnya tatakelola IT:
- Adanya perubahan peran IT, dari peran efisiensi ke peran strategik yang harus ditangani di level korporat.
- Banyak proyek IT strategik yang penting, namun gagal dalam pelaksanaannya karena hanya ditangani oleh teknisi IT.
- Keputusan IT di dewan direksi sering bersifat ad hoc atau tidak terencana dengan baik.
- IT merupakan pendorong utama proses transformasi bisnis yang memberi imbas penting bagi organisasi dalam pencapaian misi, visi dan tujuan strategik.
- Kesuksesan pelaksanaan IT harus dapat terukur melalui metrik tatakelola IT.
Information Technology Infrastructure Library (ITIL) adalah seperangkat konsep dan praktik untuk mengelola layanan TI, pengembangan dan operasi TI. ITIL memberik deskripsi rincin sejumlah praktik penting TI dan menyediakan daftar komprehensif tugas dan prosedur yang didalamnya setiap organisasi dapat menyesuaikan dengan kebutuhannya sendiri. ITIL diterbitkan dalam suatu seri buku, masing-masing mencakup topik manajemen TI. Nama ITIL dan IT Infrastruktur Library adalah merek dagang terdaftar atas milik United Kingdom’s Office of Government Commerce (OGC).
Menanggapi peningkatan kebutuhan akan TI, Badan Pusat Komputer dan Telekomunikasi Pemerintah Inggris pada tahun 1980-an mengembangkan seperangkat rekomendasi. Hal itu disusun dengan pertimbangan bahwa tanpa standar praktik, lembaga pemerintah dan sektor swasta akan menciptakan standar praktik manajemen TI sendiri secara bebas.
Pada awalnya, ITIL merupakan koleksi buku yang masing-masing meliputi praktik tertentu dalam jasa TI. ITIL dibangun dengan menggunakan perspektif proses pengendalian dan pengelolaan operasi. Perspektif ini dikenal dengan Siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA) karya W. Edwards Deming. Setelah publikasi awal tahun 1989, jumlah buku ITIL V1 terbit lebih dari 30 jilid.
Pada tahun 2000/2001, untuk membuat ITIL lebih mudah diakses (dan terjangkau), ITIL v2 mengkonsolidasi pubilikasinya menjadi 8 logis “set” yang dikelompokkan kedalam pedoman proses terkait untuk mencocokkan berbagai aspek yang berbeda dari manajemen TI, aplikasi, dan layanan. Namun fokus utama tetap pada Service Management (Layanan Dukungan dan Layanan Pengiriman) yang sejauh ini paling banyak digunakan dan beredar tentang publikasi ITIL v2.
Buku ITIL versi terdiri dari atas beberapa disiplin, yaitu:
1. IT Service Management (dukungan layanan dan layanan publik)
2. Bimbingan operasional (infrastruktur manajemen ICT, manajemen keamanan, perspektif bisnis, manajemen aplikasi, dan software asset management)
3. Pedoman implementasi ITIL (planning to implement service management)
4. Pedoman bagi unit kecil TI (implementasi ITIL untuk skala kecil)
Berikut ini dijelaskan rincian masing-masing disiplin.
1. IT Service Management (dukungan layanan dan layanan publik)
Disiplin dukungan layanan berfokus pada pengguna layanan ICT dan terutama yang berkaitan dengan memastikan bahwa pengguna memiliki akses ke layanan yang tepat untuk mendukung fungsi bisnis. Dalam disiplin ini rantai proses terdiri dari incident management, problem management, change management, release mangement dan configuration management. Rantai proses ini menggunakan Configuration Management Database (CMDB) yang mencatat setiap proses dan menciptakan dokumen-dokumen output untuk ditelusuri (qualtity management).
2. Bimbingan operasional
Disiplin layanan publik berfokus pada layanan proaktif ICT dalam memberi dukungan yang memadai bagi pengguna bisnis. Disiplin ini berfokus pada bisnis sebagai pelanggan dari layanan ICT, berbeda dengan disiplin dukungan layanan. Disiplin layanan publik terdiri dari service level management, manajemen kapasistas, manajemen kontinuitas layanan TI, manajemen sediaan dan manajemen keuangan.
3. Pedoman implementasi ITIL
Disiplin pedoman implementasi ITIL berfokus pada kerangka kerja untuk penyelarasan kebutuhan bisnis dan TI. Proses dan pendekatan yang digunakan dalam disiplin ini menyarankan pengembangan Continuous Service Improvement Program (CSIP) sebagai dasar untuk menerapkan disiplin ITIL dalam proyek-proyek kerja yang terkendali. Disiplin ini terutama berfokus pada proses manajemen layanan, tetapi juga berlaku untuk disiplin ITIL yang lain. Komponen dari disiplin ini meliputi: penciptaan visi, analisis organisasi, penetapan tujuan, dan pelaksanaan pengelolaan layanan TI.
4. Pedoman bagi unit kecil TI
Disiplin pedoman bagi unit kecil TI (implementasi ITIL untuk skala kecil) menyediakan pendekatan kerangkan implementasi ITIL bagi unit kecil TI atau departemen TI. Disiplin ini hampir sama dengan pedoman umum lain, seperti Planning to Implement Service Management, Service Support, and Service Delivery, tetapi menyediakan pedoman tambahan tentang kombinasi peran dan tanggung jawab dan menghindari konflik antarprioritas ITIL.
Selain ITIL v2, terdapat pula publikasi ITIL v3 yang terdiri atas beberapa disiplin, yaitu ITIL Service Strategy, ITIL Service Design, ITIL Service Transition, ITIL Service Operation, dan ITIL Continual Service Improvement.
Kritik terhadap ITIL
Selain keunggulan dan manfaat yang ditawarkan, ITIL juga mendapat kritik dari berbagai pihak. Kritik tersebut antara lain sebagai berikut:
- Buku-buku ITIL sulit terjangkau bagi pengguna non-komersial.
- Tuduhan bahwa banyak pendukung ITIL berpikir ITIL bersifat holistik yang mencakup semua kerangka kerja untuk tatakelola TI.
- Tuduhan bahwa para pendukung metodologi ITIL mengindoktrinasi dengan semangat berlebihan yang mengorbankan segi pragmatis.
- Pelaksanaan pedoman dalam buku ini memerlukan pelatihan khusus.
- Perdebatan atas ITIL berada dibawah ITSM atau kerangka kerjasama BSM.
- Biaya pelatihan dan sertifikasi ITIL terlalu tinggi.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa ITIL dapat menjadi pedoman umum bagi organisasi dalam merancang dan menjalankan sistem tatakelola TI. Tentunya ITIL memiliki seperangkat disiplin yang memiliki keunggulan dan keterbatasan yang sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan organisasi yang ingin mengadaptasinya.
Setiap host yang terhubung dengan jaringan TCP/IP akan memiliki pengenal atau alamat berupa IP address. IP address adalah sekumpulan bilangan decimal atau heksadesimal yang relative sukar diingat. Kondisi semacam ini dapat menimbulkan masalah bagi pengguna. Apalagi jumlah host di internet sangat banyak.
Cara yang ditempuh untuk mengatasinya yaitu dengan melakukan pemetaan IP address menjadi hostname. Hostname seperti detik.com, bisakerja.com, atau dosen.hariscloud.com, ternyata lebih mudah diingat daripada angka-angka. Jadi, saat seorang pengguna hendak mengakses server web, dia cukup menuliskan alamat situsnya saja, missal hariscloud.com, tidak perlu mengetikkan IP address-nya.
Ada dua cara yang dapat digunakan untuk memetakan seluruh IP address menjadi hostname, yaitu:
• Menggunakan file host table
• Menggunakan server DNS
Menggunakan File Host Table
Cara pertama sudah ada jauh sebelum DNS digunakan. Pada mulanya setiap komputer yang terhubung ke internet wajib memiliki file host table. File ini berisi daftar semua host dan IP address internet. Contoh isi file ini sebagai berikut:
Isi file terbagi menjadi 3 kolom, yaitu:
• IP address, berisi daftar seluruh IP address.
• Hostname, merupakan pemetaan IP address menjadi nama yang lebih mudah diingat.
• Alias, adalah nama pendek yang merupakan alias hostname.
File host table biasanya bernama hosts. Pada system Unix dan Linux file ini diletakkan di direktori /etc, yaitu /etc/hosts. Sedangkan pada Windows XP, file hosts ada di direktori Windows, C:\Windows\System32\drivers\etc\hosts.
Gambar Contoh file hosts di Windows 7
File host master atau induk disimpan di sebuah server FTP khusus. Agar tidak terjadi perbedaan antara file hosts master dengan file hosts local, administrator jaringan harus selalu mendownloadnya setiap kali ada perubahan entry file hosts master. Cara ini menjadi kurang efisien. Ketika internet semakin besar, proses update harus dilakukan cukup sering dan ini akan merepotkan administrator. Belum lagi ukuran file semakin besar, sehingga selama proses download dilakukan menyebabkan traffic meningkat. Jika ada 1000 komputer yang tergabung dengan internet, maka akan ada 1000 administrator yang melakukan download dan update file secara simultan.
Menggunakan Server DNS
Tahun 1984, Paul Mockapetris mengusulkan sistem database terdistribusi yang dinamakan DNS atau Domain Name System. DNS merupakan sistem penamaan hirarki yang terdistribusi. Pada sistem yang baru ini, tanggung jawab pemetaan IP address menjadi hostname akan didistribusikan atau dikelola oleh banyak server. Sedangkan host lain yang dikategorikan sebagai client, cukup meminta informasi dari server DNS terdekat saja. Tidak perlu melakukan download file seperti yang terjadi pada file host table.
Apabila client tidak memperoleh informasi yang diinginkan dari server terdekat, maka server terdekat tersebut akan mencari informasi dari server tetangganya. Demikian seterusnya hingga hostname yang dicari dapat diketahui IP addressnya (atau gagal).
DNS menggunakan prinsip penamaan hostname yang disebut nama domain (domainname). Struktur DNS berbentuk seperti pohon terbalik, bagian paling atas disebut root atau akar. Kemudian dibawah root ada toplevel domainname, second domainname, dan seterusnya. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar Ilustrasi Hirarki Domainname
Top Level Domain
Untuk membentuk sistem database yang terdistribusi, yang pertama kali harus diatur ialah format data. Format data ini harus dibuat sedemikian rupa, sehingga ia cocok digunakan untuk yang terdistribusi. Karena informasi yang hendak disimpan ialah IP address dan nama host, maka format penamaan host harus konsisten untuk semua host dan mampu mencerminkan terdistribusinya data tersebut.
Format penamaan host di internet dibuat memiliki hirarki. Skema hirarki tersebut digambarkan berbentuk tree. Satu node/titik membentuk tree, memiliki beberapa subnode. Subnode ini membentuk tree yang memiliki beberapa subnode lagi, dan seterusnya. Node berlabel ini disebut domain. Domain ini bisa berupa nama host, subdomain atau top level domain.
Gambar Domain Name Space
Domain teratas ialah Root Domain. Domain ini dituliskan dalam bentuk titik ( . ). Top Level Domain terdiri atas semua node yang tepat berada dibawah root. Pada gambar diatas hal ini ditunjukkan dengan node arpa, edu, gov dan seterusnya.
Subdomain merupakan kumpulan keturunan Top Level Domain. Node yang berada tepat dibawah Top Level Domain disebut Second Level Domain. Node dibawah Second Level Domain disebut Third Level Domain, dan seterusnya.
Cara pembentukan serta pembacaan nama host dan domain, sesuai dengan diagram diatas, dimulai dari node paling bawah, mengikuti label yang tertera pada masing-masing node dan berakhir di root.
Sebagai contoh:
admin.gemini.cnrg.net
- Tanda “.” menunjukkan Root Domain
- Net merupakan Top Level Domain
- Cnrg merupakan Second Level Domain
- Gemini merupakan Third Level Domain
- Admin merupakan nama host/komputer yang bersangkutan.
Sesuai konvensi, label yang menunjukkan domain ditulis dari kiri ke kanan, dipisahkan dengan tanda titik, dengan domain yang paling jauh dari rot ditulis terlebih dahulu. Penulisan secara lengkap seperti diatas, mulai dari nama host hingga tanda titik yang melambangkan root disebut Fully Qualified Domain Name (FQDN).
Top Level Domain digunakan untuk menunjukkan jenis perusahaan, instansi, lembaga, atau negara tempat komputer ini berada. Top Level Domain (TLD) ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
- TLD generik (generic domain)
- TLD negara (country domain)
- TLD arpa.
Pada awalnya TLD yang digunakan adalah TLD generik. Contoh dari TLD generik adalah :
• com untuk organisasi komersil
• edu untuk lembaga pendidikan
• gov untuk lembaga pemerintahan Amerika Serikat
• int untuk lembaga internasional
• mil untuk llembaga militer Amerika Serikat
• net untuk lembaga penyedia jaringan internet
• org untuk organisasi non komersil
Dengan semakin banyaknya negara-negara yang terhubung ke Internet maka diputuskan untuk menggunakan standar pembagian geografis yang disebut TLD Negara (country domain). Untuk itu dialokasikan Top Level Domain yang merupakan pengenal sebuah negara dengan dua huruf yang unik.
Contoh dari sebuah domain country adalah .id untuk negara Indonesia, .uk untuk Inggris, .my untuk Malaysia dan sebagainya.
Pembagian TLD secara geografis ini diikuti dengan pembagian organisasi bagi level domain di bawahnya. Ada yang mengadopsi sistem pembagian di Amerika seperti edu.au atau com.au, ada juga yang menggunakan sistem pembagian yang dipelopori oleh Inggris seperti co.uk atau ac.uk.
Pembagain domain di Indonesia ditetapkan sampai level kedua (Second Level Domain) dan penggunaan sistem penamaan Inggris, seperti contoh dibawah ini :
• co.id untuk organisasi komersil
• go.id untuk lembaga pemerintahan
• ac.id untuk lembaga pendidikan
• net.id untuk perusahaan penyedia jasa jaringan internet
• or.id untuk LSM atau organisasi non komersil
Untuk penamaan Third Level Domain dan seterusnya diserahkan pada pengelola masing-masing organisasi.
Reverse Mapping
DNS juga memiliki fasilitas yang dapat memetakan IP Address ke domain nama, fasilitas ini disebut dengan fasilitasrevese mapping. Suatu organisasi yang bergabung ke Internet akan mendapatkan otoritas untuk nama domain tertentu, juga akan mendapatkan otoritas untuk namespace in-addr.arpa, yang sesuai dengan IP address yang dimilikinya.
Zone
Domain name space yang biasa maupun reverse mapping tidak dikelola oleh satu server. Pengelolaannya didistribusikan dengan cara membagi ke dalam zone-zone. Sebuah zone akan membawahi seluruh host pada suatu domain, kecuali didelegasikan lain.
Zone dapat berupa second level domain (mit.edu), third level domain (kambing.or.id), forth level domain(cnrg.kambing.or.id) dan seterusnya.
Jika akan dibentuk sebuah zone baru, maka harus disediakan Name Server untuk zone tersebut. Nama dan IP Address dari seluruh host di zone tersebut harus diisikan ke Name Server tersebut. Name Server inilah yang akan menjawab setiap pertanyaan tentang zone yang bersangkutan.
Pada pembentukan zone baru, harus disediakan Primary Name Server dan satu atau lebih Secondary Name Server untuk menangani zone ini. Primary Name Server akan mendapatkan authority dari Root Name Server untuk menangani zone tersebut. Primary Name Server dan Secondary Name Server akan menjadi Name Server yang authoritative untuk zone tersebut.
Dengan diberikannya authority pada sebuah Primary Name Server, maka pada Name Server domain induk (Root Name Server) hanya berisi petunjuk ke sejumlah name server yang authoritative untuk sebuah zone. Root Name Server hanya akan memberikan jawaban daftar name server yang lebih patut untuk ditanya bila ada pertanyaan tentang sebuah zone.
Secondary Name Server hanya merupakan cadangan bila Primary Name Server bermasalah, dapat juga digunakan untuk membagi beban dari Primary Name Server. Primary Name Server mendapatkan data-data pemetaan dari hard disk lokalnya sedangkan Secondary Name Server mendapatkan data pemetaan dari hasil replikasi pada Primary Name Server.
Data di Primary Server disebut Zone File, sedangkan proses pembaruan data pada secondary server disebut sebagai Zone Transfer.
Komponen DNS
Resolver adalah bagian dari program aplikasi yang bertugas menjawab pertanyaan tentang domain dengan cara melihat isi cachenya atau bertanya kepada server DNS. Program aplikasi pada sebuah komputer berinteraksi dengan Server DNS melalui resolver.
Gambar 1.2 Model Kerja Server DNS
Bila sebuah name server tidak mengetahui jawaban dari suatu pertanyaan domain name maka name server ini akan berusaha mencari jawaban dengan bertanya pada server lain yang authoritative. Bila sebuah Name Server tidak mengetahui server mana yang authoritative, maka Name Server akan melakukan name resolution.
Name Resolution
Untuk mengetahui jawaban dari sebuah pertanyaan cnrg.kambing.or.id, maka Name Server terlebih dahulu akan mengontak Root Name Server sebagai server tertinggi dalam hirarki DNS. Root Name Server tidak memiliki informasi tentang cnrg.kambing.or.id. Root Server hanya memberikan referensi untuk mencari nama host dengan domian id, sebaiknya kita menghubungi authoritative server untuk domain id. Ketika name server id, dihubungi dia akan melakukan hal yang sama dengan Root Name Server, sebaiknya kita menghubungi autoritative server untuk domain ac.id. Ketika server untuk domain .ac.id ditanya, server ini pun akan melakukan hal yang sama, hanya memberikan saran, sebaiknya pertanyaan ini ditanyakan pada server domain kambing.or.id. Name Serverkambing.or.id lah yang akhirnya memberikan jawaban atas pertanyaan terhadap domain cnrg.kambing.or.id.
BIND
BIND (Berkeley InternetName Domain) adalah software implementasi DNS yang dibuat oleh Kevin Dunlop untuk sistem operasi Unix Berkeley 4.3 BSD.
ICANN, singkatan dari Internet Corporation for Assigned Names and Numbers, adalah organisasi nirlaba yang didirikan pada 18 September 1998 dan resmi berbadan hukum pada 30 September 1998. Organisasi yang berkantor pusat di Marina Del Rey, California ini ditujukan untuk mengawasi beberapa tugas yang terkait dengan Internet yang sebelumnya dilakukan langsung atas nama pemerintah Amerika Serikat oleh beberapa organisasi lain, terutama Internet Assigned Numbers Authority (IANA).
Domain list:
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Internet_top-level_domains
Essay adalah karangan yang menjelaskan mengenai sebuah topik permasalahan. Ada beberapa model essay yang bisa digunakan seperti model agreement or disagreement, ekplanasi atau model opinion.
1. Model Pertama
Penulis mengungkapkan setuju atau tidak setuju terhadap topik yang akan ditulis. Model pertanyaannya biasanya dengan “do you aggree”?
contoh:
The responsibility for the environment rests with the individual and not only with the goverment. Do you agree?
Answer Sample:
Everyone is becoming aware that the environment is a serious issue. There is serious air and water pollution everywhere and we also know that the green house effects is changing over weather and that the hole in the ozone layer is causing skin cancer. Howover, not enough is being done to solve these problems, because most people seem to be waiting for goverments to make the decisions. In fact, the responsibility for protecting the environment must be shared by everyone. Individuals can and should do many things to help solve the problem.
First of all, people can make sure that they are responsible in the way they dispose of waste. If people throw rubbish like plastic into rivers and oceans, it always stays here, and causes fish to die. It is also important to make sure that we do not buy goods thats have too much wrapping on them, especially plastic wrapping, because if we do, we are adding to the huge amounts of waste.
People also need to be responsible in the way they use water. In some countries like Australia, people waste an enormous amount of water for swimming pools, washing their cars and so on. Most countries are running out of fresh water.
If people used their cars less, this would help prevent the greenhouse effect. Everyone can try to use public transport more, or use bicycle or even walk, instead of using their cars for event short trips.
Finally. The most important thing that individuals can do is to let their goverments know that they want something to be done about the environment. It is dear that the goverments will not do anything unless the people force them to.
It is therefore dear that individuals must take responsibility for the environment, otherwise it will soon be too late, and we and the next generation will suffer serious consequences.
2. Model Kedua
Penulis diminta untuk menjelaskan secara gamblang mengenai topik permasalahan. Model pertanyaanya biasanya dengan “to what extent”.
“To what extent are computers essential in modern society?”
3. Model Ketiga
Model ketiga, penulis diminta untuk mengungkapkan pendapatnya mengenai sebuah topik. Model pertanyaan biasanya dengan “what is your opinion?”
It is sometimes argued that because tertiary education is of greater benefit to the individual than to society, students should pay full fees. What is your opinios?
Abstrak
Sudah menjadi rutinitas seorang dosen untuk mengajar dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Kendala yang kadang terjadi adalah dosen tidak mengenal mahasiswanya, sehingga nilai hasil evaluasi belajar mahasiswa tersebut terbengkalai. Dari sisi mahasiswa, besar keinginan untuk segera mengetahui nilai hasil evaluasi belajar, namun sering kali nilai belum bisa diketahui hingga menjelang akhir semester. Oleh karena itu dibutuhkan web dosen yang dapat mengolah data nilai mahasiswa yang dapat diakses dari manapun mahasiswa berada melalui media internet. Sistem ini diharapkan dapat mengkomunikasikan dosen dengan mahasiswanya, menampilkan nilai hasil evaluasi belajar, dan dapat memberikan peringatan pada mahasiswa yang belum mengikuti quiz maupun belum mengerjakan tugas mata kuliah melalui email. Sehingga terjalin kerja sama yang saling mendukung dan menguntungkan antara dosen dengan mahasiswa.
Pemrosesan paralel menjadi sebuah pilihan setelah pemrosesan sekuensial mengalami berbagai keterbatasan. Penyebabnya adalah karena kecepatan pemrosesan sekuensial belum mencukupi kebutuhan bidang sains dan rekayasa akan kecepatan komputasi yang tinggi.
Pemrogram mempergunakan pemrosesan paralel untuk membuat program yang menyelesaikan suatu masalah dengan waktu eksekusi yang lebih sedikit. Secara sederhana, disini komputasi akan dilakukan secara bersama-sama (paralel) oleh sekian banyak komputer. Dalam hal ini, dibutuhkan konfigurasi dan teknik pemrograman khusus untuk memungkinkan eksekusi program secara paralel tersebut.
Sehingga persoalan yang jika dikomputasi memerlukan waktu yang lama untuk mengeksekusinya, maka janganlah terburu-buru untuk membeli komputer dengan prosessor terbaru untuk memecahkannya. Solusinya dapat diperoleh dengan memanfaatkan “kekuatan” dari komputer-komputer lain di tempat kerja atau di kampus yang sedang idle.
NIST
Dalam tulisan terdahulu, sudah sedikit disinggung mengenai karakteristik dan jenis-jenis dari Cloud Computing, dan juga sejarah kemunculannya. Tulisan kali ini akan berbicara sedikit lebih dalam tentang berbagai aspek teknis dari Cloud Computing itu sendiri.
Seperti juga sudah disinggung sebelumnya, bahwa sampai saat ini paradigma cloud computing ini masih berevolusi, dan masih menjadi subyek perdebatan yang melibatkan akademisi, vendor teknologi informasi, badan pemerintah, dan pihak-pihak terkait lainnya.
Dan untuk memberikan satu common ground bagi publik, pemerintah Amerika melalui National Institut of Science and Technology (NIST) sebagai bagian dari Departemen Perdagangan Amerika, telah membuat beberapa rekomendasi standar tentang berbagai aspek dari Cloud Computing untuk dijadikan referensi. Sebagian besar isi artikel ini diambil dari dokumentasi NIST tersebut.
Kriteria Cloud Computing
Seperti sudah sedikit dijelaskan dalam tulisan terdahulu, bahwa tidak semua aplikasi berbasis web dapat dimasukkan ke dalam kategori cloud computing. NIST menetapkan setidaknya lima kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah sistem untuk bisa di masukkan dalam keluarga cloud computing, yaitu :
1. Swalayan (On Demand Self Service)
Seorang pelanggan dimungkinkan untuk secara langsung “memesan” sumber daya yang dibutuhkan, seperti processor time dan kapasitas penyimpanan melalui control panel elektronis yang disediakan. Jadi tidak perlu berinteraksi dengan personil customer service jika perlu menambah atau mengurangi sumberdaya komputasi yang diperlukan.
2. Akses Pita Lebar (Broadband Network Access)
Layanan yang tersedia terhubung melalui jaringan pita lebar, terutama untuk dapat diakses secara memadai melalui jaringan internet, baik menggunakan thin client, thick client ataupun media lain seperti smartphone.
3. Sumberdaya Terkelompok (Resource pooling)
Penyedia layanan cloud, memberikan layanan melalui sumberdaya yang dikelompokkan di satu atau berbagai lokasi date center yang terdiri dari sejumlah server dengan mekanisme multi-tenant. Mekanisme multi-tenant ini memungkinkan sejumlah sumberdaya komputasi tersebut digunakan secara bersama-sama oleh sejumlah user, di mana sumberdaya tersebut baik yang berbentuk fisik maupun virtual, dapat dialokasikan secara dinamis untuk kebutuhan pengguna/pelanggan sesuai permintaan.
Dengan demikian, pelanggan tidak perlu tahu bagaimana dan darimana permintaan akan sumberdaya komputasinya dipenuhi oleh penyedia layanan. Yang penting, setiap permintaan dapat dipenuhi. Sumberdaya komputasi ini meliputi media penyimpanan, memory, processor, pita jaringan dan mesin virtual.
4. Elastis (Rapid elasticity)
Kapasitas komputasi yang disediakan dapat secara elastis dan cepat disediakan, baik itu dalam bentuk penambahan ataupun pengurangan kapasitas yang diperlukan. Untuk pelanggan sendiri, dengan kemampuan ini seolah-olah kapasitas yang tersedia tak terbatas besarnya, dan dapat “dibeli” kapan saja dengan jumlah berapa saja.
5. Layanan Yang Terukur (Measured Service)
Sumberdaya cloud yang tersedia harus dapat diatur dan dioptimasi penggunaannya, dengan suatu sistem pengukuran yang dapat mengukur penggunaan dari setiap sumberdaya komputasi yang digunakan (penyimpanan, memory, processor, lebar pita, aktivitas user, dan lainnya). Dengan demikian, jumlah sumberdaya yang digunakan dapat secara transparan diukur yang akan menjadi dasar bagi user untuk membayar biaya penggunaan layanan.
Dari sisi jenis layanan cloud sendiri, sampai saat ini para pemain di area ini sepakat untuk membagi jenis layanan cloud computing ke dalam tiga jenis layanan, yaitu:
1. Software as a Service (SaaS).
SaaS ini merupakan layanan Cloud Computing yang paling dahulu populer. Software as a Service ini merupakan evolusi lebih lanjut dari konsep ASP (Application Service Provider). Sesuai namanya, SaaS memberikan kemudahan bagi pengguna untuk bisa memanfaatkan sumberdaya perangkat lunak dengan cara berlangganan. Sehingga tidak perlu mengeluarkan investasi baik untuk in house development ataupun pembelian lisensi.
Dengan cara berlangganan via web, pengguna dapat langsung menggunakan berbagai fitur yang disediakan oleh penyedia layanan. Hanya saja dengan konsep SaaS ini, pelanggan tidak memiliki kendali penuh atas aplikasi yang mereka sewa. Hanya fitur-fitur aplikasi yang telah disediakan oleh penyedia saja yang dapat disewa oleh pelanggan.
Dan karena arsitektur aplikasi SaaS yang bersifat multi tenant, memaksa penyedia untuk hanya menyediakan fitur yang bersifat umum, tidak spesifik terhadap kebutuhan pengguna tertentu. Meskipun demikian, kustomisasi tidak serta-merta diharamkan, meskipun hanya untuk skala dan fungsi yang terbatas.
Tapi dengan berkembangnya pasar dan kemajuan teknologi pemrograman, keterbatasan-keterbatasan itu pasti akan berkurang dalam waktu tidak terlalu lama. Untuk contoh layanan SaaS, tentu saja kita harus menyebut layanan CRM online Salesforce.com–yang dikomandai Marc Benioff dan telah menjadi ikon SaaS ini.
Selain itu Zoho.com, dengan harga yang sangat terjangkau, menyediakan layanan SaaS yang cukup beragam, dari mulai layanan word processor seperti Google Docs, project management, hingga invoicing online. Layanan akunting online pun tersedia, seperti yang diberikan oleh Xero.com dan masih banyak lagi. IBM dengan Lotuslive.com nya dapat dijadikan contoh untuk layanan SaaS di area kolaborasi/unified communication.
Sayangnya untuk pasar dalam negeri sendiri, seperti sudah saya sampaikan dalam tulisan terdahulu, masih sangat sedikit yang mau berinvestasi untuk menyediakan layanan SaaS ini.
2. Platform as a Service (PaaS)
Seperti namanya, PaaS adalah layanan yang menyediakan modul-modul siap pakai yang dapat digunakan untuk mengembangkan sebuah aplikasi, yang tentu saja hanya bisa berjalan diatas platform tersebut.
Seperti juga layanan SaaS, pengguna PaaS tidak memiliki kendali terhadap sumber daya komputasi dasar seperti memory, media penyimpanan, processing power dan lain-lain, yang semuanya diatur oleh provider layanan ini.
Pionir di area ini adalah Google AppEngine, yang menyediakan berbagai tools untuk mengembangkan aplikasi di atas platform Google, dengan menggunakan bahasa pemrograman Phyton dan Django.
Kemudian Salesforce juga menyediakan layanan PaaS melalui Force.com, menyediakan modul-modul untuk mengembangkan aplikasi diatas platform Salesforce yang menggunakan bahasa Apex.
Dan mungkin yang jarang sekali kita ketahui, bahwa Facebook juga bisa dianggap menyediakan layanan PaaS, yang memungkinkan kita untuk membuat aplikasi diatasnya. Salah satu yang berhasil menangguk untung besar dari layanan PaaS Facebook adalah perusahaan bernama Zynga, yang tahun lalu saja berhasil meraup keuntungan bersih lebih dari US$ 100 juta, lebih besar dari keuntungan yang didapat oleh Facebook sendiri.
Anda mungkin akan sedikit terkejut kalau saya beritahu bahwa Zynga ini bisa untung besar dari aplikasi yang sama sekali tidak serius, tapi mengandung zat adiktif luar biasa yaitu: Farmville, yang hingga kini telah berhasil menjadikan 80 juta lebih penduduk Facebook menjadi petani yang rajin mencangkul, menanam dan panen serta memerah susu sapi demi keuntungan mereka.
3. Infrastructure as a Service (IaaS).
IaaS terletak satu level lebih rendah dibanding PaaS. Ini adalah sebuah layanan yang “menyewakan” sumberdaya teknologi informasi dasar, yang meliputi media penyimpanan, processing power, memory, sistem operasi, kapasitas jaringan dan lain-lain, yang dapat digunakan oleh penyewa untuk menjalankan aplikasi yang dimilikinya.
Model bisnisnya mirip dengan penyedia data center yang menyewakan ruangan untuk co-location, tapi ini lebih ke level mikronya. Penyewa tidak perlu tahu, dengan mesin apa dan bagaimana caranya penyedia layanan menyediakan layanan IaaS. Yang penting, permintaan mereka atas sumberdaya dasar teknologi informasi itu dapat dipenuhi.
Perbedaan mendasar dengan layanan data center saat ini adalah IaaS memungkinkan pelanggan melakukan penambahan/pengurangan kapasitas secara fleksibel dan otomatis. Salah satu pionir dalam penyediaan IaaS ini adalah Amazon.com yang meluncurkan Amazon EC2 (Elastic Computing Cloud).
Layanan Amazon EC2 ini menyediakan berbagai pilihan persewaan mulai CPU, media penyimpanan, dilengkapi dengan sistem operasi dan juga platform pengembangan aplikasi yang bisa disewa dengan perhitungan jam-jaman. Untuk di dalam negeri sendiri, rencananya ada beberapa provider yang akan menyediakan layanan sejenis mulai pertengahan tahun ini.
Setelah karakteristik dan jenis layanan, sekarang kita berlanjut ke tipe-tipe penerapan(deployment) dari layanan Cloud Computing, yang terbagi menjadi empat jenis penerapan, yaitu:
1. Private cloud
Di mana sebuah infrastruktur layanan cloud, dioperasikan hanya untuk sebuah organisasi tertentu. Infrastruktur cloud itu bisa saja dikelola oleh si organisasi itu atau oleh pihak ketiga. Lokasinya pun bisa on-site ataupun off-site. Biasanya organisasi dengan skala besar saja yang mampu memiliki/mengelola private cloud ini.
2. Community cloud
Dalam model ini, sebuah infrastruktur cloud digunakan bersama-sama oleh beberapa organisasi yang memiliki kesamaan kepentingan, misalnya dari sisi misinya, atau tingkat keamanan yang dibutuhkan, dan lainnya.
Jadi, community cloud ini merupakan “pengembangan terbatas” dari private cloud. Dan sama juga dengan private cloud, infrastruktur cloud yang ada bisa di-manage oleh salah satu dari organisasi itu, ataupun juga oleh pihak ketiga.
3. Public cloud
Sesederhana namanya, jenis cloud ini diperuntukkan untuk umum oleh penyedia layanannya. Layanan-layanan yang sudah saya sebutkan sebelumnya dapat dijadikan contoh dari public cloud ini.
4. Hybrid cloud
Untuk jenis ini, infrastruktur cloud yang tersedia merupakan komposisi dari dua atau lebih infrastruktur cloud (private, community, atau public). Di mana meskipun secara entitas mereka tetap berdiri sendiri-sendiri, tapi dihubungkan oleh suatu teknologi/mekanisme yang memungkinkan portabilitas data dan aplikasi antar cloud itu. Misalnya, mekanisme load balancing yang antarcloud, sehingga alokasi sumberdaya bisa dipertahankan pada level yang optimal.
Demikian sedikit penjelasan dari model-model cloud yang disarikan dari NIST. Namun seperti diakui oleh lembaga ini, definisi dan batasan dari Cloud Computing sendiri masih mencari bentuk dan standarnya. Di mana nanti pasarlah yang akan menentukan model mana yang akan bertahan dan model mana yang akan mati.
Namun semua sepakat bahwa cloud computing akan menjadi masa depan dari dunia komputasi. Bahkan lembaga riset bergengsi Gartner Group juga telah menyatakan bahwa Cloud Computing adalah wacana yang tidak boleh dilewatkan oleh seluruh pemangku kepentingan di dunia TI, mulai saat ini dan dalam beberapa waktu mendatang.
Mochamad James Falahuddin, praktisi teknologi informasi
( rou / rou )
Article Source:
http://www.detikinet.com/read/2010/03/03/091126/1309948/328/lebih-jauh-mengenal-komputasi-awan–2
- Pemrosesan Paralel adalah komputasi dua atau lebih tugas pada waktu bersamaan dengan tujuan untuk mempersingkat waktu penyelesaian tugas-tugas tersebut dengan cara mengoptimalkan resource pada sistem komputer yang ada untuk mencapai tujuan yang sama.
- Pemrosesan paralel dapat mempersingkat waktu ekseskusi suatu program dengan cara membagi suatu program menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang dapat dikerjakan pada masing-masing prosesor secara bersamaan.

